Catatan Perjalanan
Pendakian ini dimulai dari sebuah rencana awal dari grup teman teman lama, namun seperti biasa, wacana hanyalah tinggal wacana tanpa kejelasan. Setelah cukup lama menunggu dan dirasa tidak ada kepastian, akhirnya saya mengambil inisiatif untuk merencanakan perjalanan ini bersama sahabat sehidup semati, Bapak Sancakka Raka, yang ternyata nasibnya tidak jauh berbeda, sama sama sedang dilanda kegalauan hidup. Dari obrolan yang awalnya santai dan tanpa arah, kami pun sepakat untuk tetap berangkat berdua, meskipun tujuan awalnya belum benar benar jelas. Hingga pada akhirnya, setelah berbagai pertimbangan dan mungkin juga sedikit nekat, kami memutuskan untuk melakukan pendakian ke Artapela yang berada di kawasan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, sekitar Banjaran Pangalengan, Jawa Barat, Indonesia, sebuah tempat yang akhirnya menjadi tujuan dari perjalanan yang awalnya penuh ketidakpastian ini.
Hari pertama diisi dengan persiapan dan packing. Tepat pukul 21.05, kami berangkat dari rumah menggunakan motor dengan perasaan campur aduk antara semangat, penasaran, dan sedikit rasa nekat. Kami berdua berangkat menggunakan motor masing masing, namun tetap terhubung lewat sambungan telepon menggunakan TWS, sehingga sepanjang perjalanan kami bisa terus mengobrol seolah tidak benar benar terpisah. Candaan, cerita random, hingga obrolan tidak penting justru menjadi teman setia yang membuat perjalanan panjang ini terasa lebih ringan.
Perjalanan kami arahkan melewati jalur Puncak, di mana suasana pegunungan mulai terasa dengan kabut tipis dan udara yang semakin dingin. Lampu lampu kendaraan yang berpapasan menjadi teman di tengah gelapnya jalan. Sesekali kami saling mengingatkan kondisi jalan lewat telepon, terutama saat menemukan tikungan tajam atau jalan yang kurang baik. Memasuki wilayah Cianjur, jalanan mulai lebih sepi, hanya sesekali kendaraan besar melintas. Di beberapa titik, kami sempat memperlambat laju karena kondisi jalan yang gelap dan berkelok, namun komunikasi yang terus terjaga membuat perjalanan terasa lebih aman.
Setelah cukup lama berkendara, kami akhirnya memasuki wilayah Bandung dengan kondisi badan yang mulai lelah. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah Indomaret untuk beristirahat, membeli minuman, dan tentu saja menikmati sebatang rokok sambil meregangkan badan. Di sana, kami sempat duduk beberapa menit, masih melanjutkan obrolan yang dari tadi tidak pernah putus, meskipun kini tanpa perantara telepon.
Setelah dirasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju basecamp Artapela. Jalanan yang semakin sepi dan udara yang semakin dingin menjadi tantangan tersendiri, namun juga menambah kesan mendalam dalam perjalanan ini. Hingga akhirnya, tepat pukul 03.11 dini hari, kami tiba di basecamp Artapela dengan perasaan lega sekaligus puas, menandai berakhirnya perjalanan panjang kami dari malam hingga menjelang subuh.
Setelah itu, kami berdua melanjutkan obrolan bersama penjaga basecamp hingga tanpa terasa waktu mulai memasuki pagi. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum memulai pendakian. Namun yang terjadi justru sebaliknya, saya langsung tertidur pulas karena kelelahan setelah perjalanan panjang, sementara teman saya tidak bisa memejamkan mata sama sekali.
Ia pun memilih keluar untuk mencari sarapan pagi di sekitar basecamp. Saat saya masih terlelap, ia berjalan mencari warung hingga akhirnya menemukan tempat sederhana untuk menikmati pagi. Di sana, ia duduk di teras warung, menikmati secangkir kopi hitam dan sebatang rokok sambil memandang suasana sekitar yang masih tenang. Waktu terasa berjalan begitu cepat dalam kesederhanaan itu, hingga akhirnya ia kembali ke basecamp dan ikut beristirahat sejenak.
Setelah dirasa cukup, kami berdua mulai bersiap untuk melakukan pendakian. Di sela sela persiapan, kami mengobrol dan bercanda dengan warga sekitar, bahkan sempat menikmati cilok yang dijajakan di sekitar basecamp. Tanpa terasa, waktu mulai beranjak siang, dan tepat pukul 13.00 kami akhirnya memulai perjalanan dari basecamp.
Di awal pendakian, jalur yang kami lalui masih berupa pekarangan rumah warga. Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan warga yang menyapa dengan ramah, lalu perlahan jalur berubah menjadi area pertanian. Pemandangan perkebunan warga menemani langkah kami, memberikan kesan hangat dan dekat dengan kehidupan sehari hari masyarakat setempat. Sekitar satu jam perjalanan, kami mulai masuk ke jalur yang lebih menanjak dan alami. Namun di tengah perjalanan, teman saya mulai merasakan gejala altitude sickness. Ia terlihat mual hingga akhirnya muntah, dan jujur saja saya sempat tertawa melihat kondisinya saat itu. Setelah ia mencoba menenangkan diri dan beradaptasi, kami pun melanjutkan perjalanan bersama.
Sekitar pukul 15.00, kami tiba di pos 2 dan memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, sekitar pukul 15.30 kami kembali melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalur, obrolan absurd dan candaan terus mengalir, membuat perjalanan terasa lebih ringan tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 17.00 menjelang sore, kami tiba di Savana Sulibra. Tanpa menunda waktu, kami langsung bergegas mendirikan dua tenda di sana sebagai tempat beristirahat sebelum hari benar benar gelap.
Malam pun perlahan datang. Udara mulai dingin, dan kami mulai memasak untuk makan malam. Dengan penuh canda, kami menyiapkan berbagai hidangan sederhana, mulai dari sate, nasi, hingga lauk lainnya. Setelah semuanya siap, kami pun makan bersama sambil menikmati suasana alam dari ketinggian.
Semakin malam, suasana semakin sunyi. Kami menyeduh kopi, menyalakan rokok, lalu duduk menikmati malam sambil mendengarkan lagu lagu galau. Obrolan kami mengalir ke mana mana, tidak jelas arah, tetapi justru terasa menyenangkan.
Malam pertama itu terasa begitu istimewa karena hanya ada tenda kami berdua di sana. Tidak ada pendaki lain, hanya kami, cahaya lampu tenda, dan gemerlap lampu kota yang terlihat dari kejauhan. Suasana sunyi tanpa suara bising kendaraan menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata kata.
Setelah menikmati waktu selama tiga hari dua malam di Artapela, tibalah saatnya kami bersiap untuk turun kembali menuju basecamp. Dalam perjalanan turun, kami sempat tersesat dan masuk ke area perkebunan warga, ditambah cuaca yang sedang hujan membuat perjalanan terasa lebih menantang. Namun justru di situlah letak cerita yang akan selalu kami ingat.
Perjalanan ini mungkin tidak sempurna, penuh dengan ketidakpastian, kelelahan, bahkan sedikit kesialan. Namun dari semua itu, kami belajar bahwa perjalanan bukan hanya soal mencapai tujuan, melainkan tentang setiap momen yang dilewati di dalamnya. Tawa, lelah, obrolan tanpa arah, hingga kesunyian di bawah langit malam, semuanya menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Pada akhirnya, Artapela bukan hanya sekadar tempat yang kami datangi, melainkan ruang yang diam diam menyimpan cerita tentang dua orang sahabat yang berjalan dengan caranya masing masing, saling melengkapi dalam diam, lalu pulang dengan hati yang terasa lebih penuh daripada saat berangkat.